Selasa, 01 April 2014
makalah MSI
Pengertian dan Sumber Ajaran Agama Islam
BAB I
PENDAHULUAN
I. Latar Belakang
Fenomena pemahaman ke-Islam-an umat Islam masih sangat variatif. Banyak orang yang mengaku beragama Islam tetapi tidak mengetahui apa sebenarnya inti ajaran yang mereka anut tersebut. Agama Islam adalah agama samawi yang diturunkan dari langit oleh Allah lewat wahyu yang diturunkan kepada Rasulullah, yang memiliki inti-inti ajaran yang bersumber dari kitab suci.
Agama Islam memiliki beberapa sumber dalam menyampaikan inti ajarannya. Dalam hal ini Islam mepunayi dua sumber primer yaitu, Al-Qur’an dan Al-Hadist, dan juga sumber sekunder yang berupa ijtihad. Islam memiliki banyak dimensi, mulai dari keimanan, akal politik, sosial, budaya, teknologi, lingkungan hingga rumah tangga. Dalam memahami berbagai ajaran agama Islam tersebut memerlukan banyak pendekatan.
Metode digunakan untuk menghasilkan pemahaman Islam yang komprehensifdan uthuh, guna memandu umat Islam dalam menghadapi dan menjawab permasalahan ajaran keislaman yang variatif. Menururt Bambang Sugiarto, tantangann yang dihadapi agama Islam sekarang ini sekurang-kurangnya ada tiga, pertama, dalam menghadapi persoalan kontemporer ditandai disorientasi nilai dan degradasi moralitas, agama ditantang untuk tampil sebagai suara moral yang autentik. Kedua, agama harus menghadapi kecenderungan pluralisme, mengolah dalam kerangka teologi baru dan mewujudkannya dalam aksi-aksi kerjasama plural. Ketiga, agama tampil sebagai pelopor perlawanan terhadap segala bentuk penindasan dan ketidakadialan.
II. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian agama?
2. Apa saja sumber ajaran agama Islam?
3. Bagaimana karakteristik ajaran agama Islam?
4. Apa pengertian metode?
5. Apa saja kegunaan metode?
BAB II
PEMBAHASAN
1. Pengertian agama
Agama berasal dari bahasa sansekerta yaitu ayang berarti tidak dan gam yang berarti pergi, jadi secara bahasa agama dapat diartikan dengan tidak pergi, tetap di tempat dan diwariskan secara turun-temurun. Agama memang memiliki karakter demikian. Dalam pendapat lain mengatakan bahwa agama adalah tuntunan. Selain kata agama, ada beberapa istilah yang digunakan untuk mendefinisikan agama, seperti dalam bahasa Arab kita mengenal kata Ad-din yang berarti menguasai, menundukkan, dan patuh. Atau dalam bahasa semit din berarti undang-undang, atau peraturan. Dalam bahasa latin ada kata religiyang berarti mengumpulkan atau mengikat.
2. Sumber-sumber ajaran agama Islam
Menurut Harun Nasution Islam merupakan ajaran agama yang ajaran-ajarannya diwahyukan oleh Allah kepada umat manusia melalui Nabi Muhammah SAW . Secara istilah adalahmengacu kepada agama yang bersumber kepada wahyu yang berasal dari Allah, bukan bersal dari manusia, dan bukan pula berasal dari Nabi Muhammad SAW . Kemudian kalangan ulama’ sepakat bahwa sumber ajaran Islam yang utama adalah Al-Qur’an dan As-sunnah, sedangkan penalaran atau akal pikiran sebagai alat untuk memahami Al-Qur’an dan As-sunnah, sumber ajaran Islam sekunder ini disebut dengan Ijtihad. Ketentuan ini sesuai dengan agama Islam itu sendiri yang berasal dari Allah SWT.
1. Sumber Ajaran Agama Islam Primer
a. Al-Qur’an
Menurut pendapat yang paling kuat, Al-Qur’an adalah bacaan. Al-Qur’an merupakan turunan(mashdar) dari suku kata Qoro’a (fi’il madhi) dengan arti isim maf’ul yaitu maqru’ yang dibaca. Pengertian ini merujuk pada sifat Al-Qur’an yang merujuk pada Firman Allah dalam surat Al-Qiyamah ayat 7-18, yang artinya: Sesungguhnya tanggungan kamilah mengumpulkannya(di dadamu) dan (membuat kamu pandai) membacanya. Apabila kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaan itu. (Q.S Al-Qiyamah[75]:7-18)
Kemudian secara istilah secara lengkap dikemukakan oleh Abdul Wahhab Al-khalaf. Menurut beliau Al-Qur’an adalah firman Allah yang diturunkan kepada hati Rasulullah SAW melalui perantara malaikat Jibril dengan menggunakan bahasa Arab dan maknanya yang benar, agar wahyu dapat menjadi hujjah bagi Rasulullah, bahwa beliau benar-benar Rasulullah, menjadi undang-undang bagi manusia, memberi petunjuk kepada mereka dan menjadi sarana untuk melakukan pendekatan diri dan ibadah kepada Allah dengan cara membacanya. Al-Qur’an terdiri dari beberapa lembaran yang dikumpulkan dalam satu mushhaf yang dimulai dari surat Al-fatihah dan diakhiri dengan surat An-nas yang disampaikan kepada kita dengan jalan mutawatir turun temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya baik secara lisan ataupun secara tulisan serta terjaga dari perubahan dan pergantian.
b. As-sunnah
As-sunnah berkedudukan sebagai sumber ajaran Islam yang kedua setelah Al-Qur’an. Selain didasarkan kepada keterangan-keterangan ayat-ayat Al-Qur’an dan hadist juga didasarkan kepada kesepakatan Shahabat. Yakni seluruh shahabat sepakat untuk menetapkan tentang wajib mengikuti hadits, baik pada masa Rasulullah masih hidup ataupun setelah beliau wafat .
Menurut ahli bahasa Al-Sunnah atau Al-hadits adalah al-jadid yang artinya adalah baru, al-khabar yang artinya adalah berita, dan al-qarib yang artinya adalah dekat. Hadist dalam pengaertian al-khabar dapat dijumpai diantaranya dalam surat at-thur (52) ayat 34, surat al-kahfi (18) ayat 6, dan surat ad-dhuha (93) ayat 11. Kemudian dalam mengartikan Al-hadist secara terminologi antara ulama’ hadist dan ulama’ ushul fiqih terjadi perbedaan pendapat. Menurut ulama’ ahli hadist, pengertian hadist adalah:
“ sesuatu yang disandarkan kepada Nabi Muhammad SAW, baik berupa perkataan, perbuatan, taqrir maupun sifat. (Mahmud al-thahan:1985:15)”
Sedangkan ulama’ ushul fiqih menyatakan bahwa yang dimaksud dengan hadist adalah:
“segala perkataan, perbuatan dan taqrir Nabi Muhammad SAW yang berkaitan dengan penetapan hukum”
As-sunnah dalam pengertian etimologi adalah:
“ cara atau jalan yang merupakan kebiasaan yang baik atau jelek."(Nur al-‘Athar,1979:27)
Umat Islam sepakat bahwa hadits adalh sumber ajaran Islam yang kedua setelah Al-Qur’an. Kesepakatan mereka didasarkan kepada nash, baik yang terdapat dalam Al-Qur’an maupun hadits. Hal ini sejalan dengan sabda Nabi Muhammad SAW ( dalam Jalaluddin ibn ‘Abdirrahman ibn Abi Bakr As-suyuti, thn. 505)
“ aku tinggalkan dua pusaka untukmu, yang kalian tikan akan tersesat selamanya, yaitu kitab Allah dan sunnah Rasul. “
Hadits berfungsi memperinci dan menginterprentasi ayat-ayat Al-Qur’an yang mujmal (global)serta memberikan persyataan(taqyid) terhadap ayat-ayat yang muthlaq. Selain itu diapun berfungsimengkhususkan(takhsish) terhadap ayat-ayat yang bersifat umum (‘am). Fungsi ini merujuk kepada bayan at-tafshilversi Imam Syafi’i dan Imam Ahmad, juga bayan tafshir. Hadist berfungsi menetapkan aturan atau hukum yang tidak didapat dalam Al-Qur’an. Fungsi ini mengacu kapada bayan at-tashri’ versi Imam Malik, Imam Syafi’i dan Ahman Ibnu Hanbal.
2.Sumber Ajaran Agama Islam Sekunder
a. Ijtihad
Secara bahasa ijtihad berasal dari kata jahada. Kata ini beserta seluruh variasinya menunjukkan pekerjaan yang dilakukan lebih dari biasa, sulit dilaksanakan atau yang disenangi.
Menurut Abu Zahra, secara istilah ijtihad adalah, “upaya seorang Ahli Fiqih dengan kemampuannya dalam mewujudkan hukum-hukum amaliyah yang diambil dari dalil-dalil rinci.”
Sebagian lagi menggunakan metode ma’quli( berdasarkan ra’yi dan akal).
Secara harfiyah ra’yi berarti pendapat dan pertimbangan. Tetapi, orang-orang arab telah memepergunakannya sebagai pendapat dan keahlian yang dipertimbangkan dengan baik dalam menangani urusan yang dihadapi.
C. Berbagai karakteristik ajaran agama Islam
Istilah “karakteristik ajaran Islam”terdiri dari dua kata: karakteristik dan ajaran Islam. Karakteristik adalan segala sesuatu yang mempunyai karakter atau sifat yang khas . Islam adalah agama yang diajarankan Nabi Muhammad SAW yang berpedoman kepada kitab suci Al-Qur’an yang diturunkan ke dunia ini dengan perantara wahyu Allah SWT . Dari pengertian dua kata tersebut, karaketristik ajaran Islam dapat diartikan sebagai suatu ciri khas dari ajaran yang diajarkan Nabi Muhammad yang nenpelajari tentang berbagai ilmu pengetahuan dan kehidupan manusia dalam berbagai bidang agama, muamalah, yang di dalamnya ternasuk ekonomi, sosial, politik, pendidikan, kesehatan, pekerjaan, lingkungan hidup dan disiplin ilmu, yang kesemuanya itu berpedoman kepada Al-Qur’an dan Al-Hadits. Dari sini dapat dilihat bahwa Islam memiliki karakteristik yang universal sehingga mampu menjangkau lapisan masyarakat yang berlainan dan beragam model dan bentuknya. Dan dengan itulah Islam memberikan solusi dalam berbagai kehidupan di sepanjang zaman. Dan ninlah yang merupakan karakteristik dari ajaran Islam yang hakiki.
a. Dalam Bidang Agama
Islam itu adalah agama yangkitab sucinya dengan tegas mengakui hak agama lain, kecuali yang berdasarkan paganisme atau syirik. Kemudian pengakuan terhadap hak agama-agama lain dengan sendirinya merupakan dasar paham kemajemukan sosial budaya dan agama, sebagai ketetapan tuhan yang tidak berubah-ubah .
2.Dalam Bidang Ibadah
Ibadah dapat diartikan sebagai upaya mendekatkan diri kapada Allah dengan menaati segal;a perintah-Nya, menjauhi segala larangan-Nya dan mengamalkan segala yang diizinkan-Nya. Ibadah ada yang bersifat umum dan ada yang bersifat khusus. Ibadah khusus dapat diartikan sebagai apa yang telah ditatapkan Allah akan perinci-perinciannya, tingkat dan cara-caranya tertentu. Misalnya bilangan sholat lima waktu serta tata cara pelaksanaannya, ketentuan ibadah haji serta tata cara pelaksanaannya. Dalam yurisprudensi Islam telah ditatapkan bahwa dalam urusan ibadah khusus tidak ada “kreativitas” , sebab yang menga’create’ suatu ibadah dinilai sebagai bid’ah yang dikutuk Nabi sebagai kesesatan
3. Bidang Ilmu dan Kebudayaan
Dalam bidang ilmu pengetahuan, kebudayaan dan teknologi, Islam mengajarkan kepada pemeluknya untuk bersikap terbuka dan tidak tertutup, terbuka untuk menerima berbagai masukan dari luar, tetapi juga harus selektif, maksudnya adalah tidakbegitu saja menerima seluruh jenis ilmu dan terknologi, melainkan ilmu pengetahuan dan terknologi yang sesuai dan tidak menyimpang dari ajaran agama Islam.
4. Bidang Pendidikan
Karakteristik Islam dalam bidang pendidikan yaitu, memandang pendidikan Islam sebagai hak bagi setiap orang (education for all), baik laki-laki ataupun perempuan, dam berlangsumg sepanjang hayat (long life education). Islam pun memiliki rumusan yang jelas terhadap dunia pendidikan dalam bidang tujuan, kurikulum, guru, metode, sarana dan lain sebagainya.
5. Bidang Sosial
Dalam bidang sosial, ciri khas yang diajarkan Islam yaitu ajaran yang bertujuan untuk mensejahterakan manusia. Berbagai ajaran yang diajarkan Islam yang diajarkan untuk mansejahterakan manusia antara lain sikap toleransi meskipun dengan umat yang berbeda agama, sikap tolong menolong, kesamaan derajat, kesetiakawanan, tenggang rasa, kegotong royongan atau kebersamaan dan lain sebagainya.
6. Bidang Kehidupan Ekonomi
Islam merupakan agama yang mempunyai ajaran dalam berbagai bidang, dalam urusan kehidupan duniapun Islam juga mempunyai ajaran. Dalam bidang ekonomi, Islam mengajarkan untuk kesejahteraan manusia, karena Islam memandang bahwa manusia itu harus hidup seimbang dan tidak terpisahkan antara urusan dunia dan urusan akhirat, adapun ciri khas ekonomi Islam yaitu:
a. Ekonomi Islam merupakan bagian dari sistem ekonomi Islam
b. Ekonomi Islam merealisasikan keseimbangan individu dengan kepentingan masyarakat.
D. Pengertian Metode
Menurut bahasa (etimologi), metode berasal dari bahasa Yunani, yaitu meta yang artinya sepanjang dan hodos yang artinya jalan. Jadi metode adalah suatu ilmu tentang cara atau langkah-langkah yang ditempuh dalam suatu disiplin tertentu untuk mencapai tujuan tertentu. Metode berarti ilmu cara menyampaikan sesuatu kepada orang lain. Metode juga disebut pengajaran atau penelitian.
Menurut istilah (terminologi), metode adalah ajaran yang memberikan uraian, penjelasan, dan penentuan nilai. Metode biasa digunakan dalam penelitian dan penyelidikan keilmuan. Hugo F. Reading menyatakan bahwa metode adalah kelogisan penelitian ilmiah, sistem tantang prosedur dan teknik riset.
Metode adalah ilmu yang memberi pengajaran tentang sistem dan langkah yang harus ditempuh dalam mencapai suatu penyelidikan keilmuan. Dalam berbagai penelitian ilmiah, langkah-langkah pasti harus ditempuh agar kelogisan penelitian ilmiah benar-benar nyata dan dapat dipercaya semua masyarakat. Metode juga dapat diartikan sebagai cabang logika yang merumuskan dan menganalisis prinsip-prinsip yang tercangkup dalam menarik kesimpulan logis untuk membuat konsep.
E. Kegunaan metode
Sejak kedatangan Islam pada abad ke-13 M, hingga saat ini fenomena amat variative. Kondisi ini terjadi di berbagai negara termasuk Indonesia. Walau keadaan amat variative , namun tidak keluar dari apa yang terkandung di dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits, serta sejalan dengan fakta-fakta historis yang dapat dipertanggungjawabkan.
Pada tahap berikutnya, yang menjadi primadona masyarakat Islam adalah ilmu kalam atau biasa disebut sebagai teologi, sehingga semua masalah yang dihadapi selalu dilihat dari kacamata teologi. Lebih dari itu teologi yang kebanyakan orang Islam pelajari hanya berpusat pada paham asy’ari dan Sunni. Paham ini dianggap sesat , akibatnya tidak terjadi keterbukaan, dialog dan saling menghargai.
Pada tahap berikutnya muncul paham keIslaman yang bercorak tasawuf yang mengambil bentuk tarikat, terkesan kurang menampilkan pola hidup yang seimbang antara urusan dunia dan urusan akhirat (ukhrawi). Dalam tasawuf kehidupan dunia terkesan diabaikan. Umat terlalu mementingkan akhirat, urusan dunia menjadi terbengkalai. Akibatnya keadaan umat mundur dalam bidang keduniaan, materi dan fasilitas. Dari contoh pemahaman keIslaman di atas diperoleh kesan bahwa hingga sat ini pemahaman Islam yang terjadi di masyarakat masih bercorak parsial, belum utuh dan belum komprehensif. Sekalipun dijumpai adanya pemahaman Islam yang sudah utuh baru diserap sebagian sarjana yang membaca karya modern deengan sikap terbuka.
Proses pengajaran Islam hingga saat ini masih belum tersusun secara sistematis dan belum disampaikan menurut prinsip, pendekatan dan metode yang direncanakan dengan baik. Namununtuk kepentingan akademis, membuat Islam lebih responsif dan fungsional dalam memandu perjalanan umat Islam diperlukan metode yang dapat menghasilkan pemahaman Islam yang utuh dan komprehensif.
Pada abad pertengahan, Eropa dalam keadaan stagnasi dan masa bodoh dalam waktu seribu tahun. Tetapi stagnasi dan masa bodoh tersebut kemudian menjadi kebangkitan revolusioner yang multifaset dalam bidang sains, seni, dan kehidupan sosial. Revolusi yang mendadak dalam pemikiran manusia ini menghasilkan peradaban kebudayaan. Kita harus bertanya kepada diri kita sendiri mengapa orang mandeg sampai seribu tahun, dan apa yang terjadi pada dirinya yang menyebabkan perubahan mendadak, ia bangkit dan bangun, sehingga dalam waktu 300 tahun Eropa menemukan kebenaran-kebenaran yang tidak mereka peroleh dalam seluruh waktu seribu tahun.
Ali syari’ati(1933-1977), seorang sarjana Iran yang meninggal di rantau yaitu di Inggris, menyatakan bahwa faktor utama yang menyebabkan kemandegan dan stagnasi dalam pemikiran, peradaban dan kebudayaan yang berlangsung hingga seribu tahun di Eropa pada abad pertangahan adalah metode pemikiran analogi dari Aristoteles. Di kala cara melihat masalah objek itu berubah, dan sebagai akibatnya kehidupan manusia juga berubah. Dengan demikian kita dapat mengetahui dan memehami tentang pentingnya metodologi sebagai faktor fundamental dalam renaisans.
Begitu pentingnya peranan metode pemahaman ajaran Islam dalam kemajuan dan kemunduran pertumbuhan ilmu. Mukti Ali mengatakan bahwa yang menentukan dan membawa stagnasi adalah metode yang digunakan. Sebagai contoh pada abad ke-14 hingga abad ke-16 Masehi, Aristoteles lebih jenius dibanding dengan Francis bacon. Namun mengapa justru Bacon menjadi orang yang kejeniusannya lebih rendah dibanding dengan Aristoteles. Ali Mukti menjawab bahwa karena orang yang biasa-biasa saja seperti Bacon dapat menemukan metode berpikir yang benar dan utuh.
Hal demikian tidak untuk merendahkan orang-orang jenius. Akan tetapi, kejeniusan saja tidak cukup, namun harus dilengkapi dengan ketepatan dalam memilih metode yang digunakan untuk kerjanya dalam bidang ilmu pengetahuan. Pada dasarnya metode digunakan untuk mencapai tujuan dalam mencari kabanaran ilmu dan menggali kebenaran ilmu pengetahuan.
PENUTUP
I. KESIMPULAN
Dalam mengarungi kehidupan di dunia ini kita harus memiliki pedoman agar tidak tersesat, tetapi sebelumnya kita harus mengetahui apa pengertian dari pedoman yang kita anut itu sendiri. Dalam agama Islam kita mempunyai sumber-sumber dalam mengajarkan ajaran agama Islam, dalam hal ini ada dua sumber, yaitu sumber primer yang meliputi Al-Qur’an dan Al-hadits, dan sumber sekunder yang meliputi ijtihad.
Metode adalah ilmu yang memberi pengajaran tentang sistem dan langkah yang harus ditempuh dalam mencapai suatu penyelidikan keilmuan. Dengan metode yang tepat mempermudah tujuan pencapaian kelogisan penelitian dan kebenarannya. Ada dua metode dalam memahami Islam yaitu metode komparasi dan metode sintesis (metode memahami Islam dengan memadukan metode ilmiah dengan metode teologis normatif).
Dalam memahami Islam secara komperehensif dengan berpedomen kepada semangat dan isi ajaran al-qur’an yang diketahui banyak aspek. Berbagai metode dapat dipakai untuk memahami ajaran islam. Membandingkan Allah dengan sesembahan non muslim, membandingkan dengan kitab-kitab lain, membandingkan kepribadian Rasul SAW dengan tokoh-tokoh agama lain.
II. SARAN
Kita sebagai umat manusia harus memiliki pegangan dalam hidup dan untuk memahami pegangan hidup yang kita pilih tersebut kita harus memiliki cara untuk memahami pegangan hidup kita tersebut dan cara tersebut disebut dengan metode.
Sebagai umat Islam kita harus bisa memahami dan mengamalkan apa yang telah kita yakini salama ini, untuk mengamalkannya kita harus mamiliki pegangan yaitu, Al-Qur’an dan Al-Hadist.
DAFTAR PUSTAKA
Nata, Abudin. 1998. Metodologi Studi Islam. Jakarta: Raja Grafindo Persada
Abdul hakim, Atang dkk. 2000. Metodologi Studi Islam. Bandung : PT. Persada Rosdakarya
Al-kholaf, Abdul Wahab.1972. Ilmu al-ushulul fiqh . Jakarta: Al-majlis al-a’la al-indonesia li al-da’wah al-islamiyah
Ahmad, Hasan. 1984. Pintu ijtihad sebelum ditutup. Bandung: Pustaka Bandung
Badudu dkk. 1996. Kamus Bahasa Indonesia. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan
Pusat Deppenas. 1994. Kamus Besar bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka
Abdullah, Yatimin. 2006. Studi Islam Kontemporer. Jakarta: Hamzah
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar